29 April 2009

Sederhana

Assalamu'alaikum wr. wb.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat;
diucapkan kayu kepada api yg menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat;
disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada


by Sapardi Djoko Damono

Saya tidak sedang sentimentil. Walau banyak yang bilang saya memang cukup romantis, apalagi istri saya hehe. ( Ssstt, justru puisi inilah yang membuat istri kesengsem dan mau menjalani hidup bersama sang kelana ini hehe).

Saya hanya suka pada kesederhanaan. Ya, dalam setiap perkataan, pemikiran dan tindakan, saya selalu sederhana. Baju saya sederhana, omongan saya sederhana, bisnis saya sederhana, bahkan wajah saya sederhana :).

The power of simplicity, itu saya rasakan sendiri. Dalam usaha - itu juga seandainya punya toko bisa disebut usaha ya - saya berpikir sangat simple. Suka sekali apa yang dikatakan oleh Aa Gym : mulailah dari diri sendiri, dari yang kecil dan mulailah sekarang !. Tujuannya juga sederhana, ingin memberikan manfaat kepada orang lain dengan memberi lapangan pekerjaan dan belajar cara sahabat Rasulullah dalam menjemput rejeki, yang 9 dari 10-nya dengan berdagang. Klo ternyata ada profit yang lumayan, itu sekedar efek samping hehe.

Tanpa lelah saya selalu katakan pada yang bertanya, saya mulai dari Rp. 800.000,- semoga dianggap kecil untuk memulai sebuah usaha. Maklum, lom pernah merasakan berwirausaha, otak sudah terjerembab terlalu dalam ke pemikiran sebagai seorang karyawan yang hanpir 10 tahun mengabdi. Udah membatu. Ingin test and measure, ingin coba2. Di ruang tamu rumah, dengan pegawai saya sendiri besama istri. Ya, menjual busana muslimah secara kredit ke para tetangga tercinta.

Tidak mau berpikir muluk dalam berusaha, tidak ingin menunggu kondisi ideal untuk memulai. Nunggu ada modal Rp. 30 juta, nunggu punya toko yang lokasinya strategis, nunggu punya pegawai yang jujur, amanah, ramah tamah, cinta nusa dan bangsa ... wah kapan mulainya :).

KISS - Keeep It Simple Stupid !. Atau "Keep It Sweet & Simple", "Keep It Short & Simple", "Keep it Simple, Sweetheart" adalah kata2 yang kurang lebih sama pengertiaannya. Albert Einstein bilang "everything should be made as simple as possible, but no simpler." dan Leonardo da Vinci bilang "Simplicity is the ultimate sophistication."

Dalam buku It's Not the Big that Eat the Small...It's the Fast that Eat the Slow by Jason Jennings and Laurence Haughton juga dijelaskan mengenai ciri perusahaan yang cepat adalah perusahaan yang simple dan menerapkan konsep KISS. Jalur birokrasi mereka pendek, struktur organisasinya ramping, menerapkan kebebasan mengungkapkan ide yang tidak hanya eksklusif milik jajaran pimpinan, tidak pusing pada visi dan misi perusahaan yang kadang hanya sebagai hiasan dinding tapi pada pedoman perusahaan yang simple, praktis dan aplikatif. Perusahaan yang simple lincah dalam bergerak dan cepat dalam mengadaptasi perubahan.

Apakah dengan sederhana menjadikan kita gak punya ambisi ? selalu dalam posisi standar dan biasa2 saja ? gak punya keinginan untuk maju ?. Not really. Dalam bukunya, Quantum Ikhlas, Erbe Sentanu menjabarkan bahwa mengapa kesederhanaan kadang justru memiliki power. Ya, jika kesederhanaan itu diselubungi dengan keikhlasan. Konsep goal setting diubah menjadi goal praying, positif thingking menjadi positif feeling karena feeling yang berasal dari hati lebih memiliki kekuatan dahsyat. Jadi walau apa yang kita lakukan terlihat sepele atau sederhana dalam kacamata orang namun jika dihiasi dengan keikhklasan dan rasa syukur maka itu akan menjadi pekerjaan atau sesuatu yang besar. Insya Allah.

Kesederhanaan juga berlaku bagi gaya hidup orang sukses. Kita sudah seringkali menjumpai orang sukses yang humble, low profile dan jiwa sosialnya tinggi. Memang sepertinya ada korelasi antara kesuksesan dan jiwa sosial, atau sebaliknya. Orang yang sekarang sukses biasanya lebih banyak memberi dan sebaliknya orang yang lebih sering memberi Insya Allah bisa sukses. Trik dari Adam Khoo, motivator dan penulis buku Master Your Mind, Design Your Destiny, menyatakan bahwa dalam meningkatkan kesuksesan, salah satu caranya adalah tingkatkan pemasukan dan tekan pengeluaran. Live below your mean, jangan besar pasak daripada tiang. Bedakan dan prioritaskan antara keinginan dan kebutuhan. Mampunya beli dan bayar pajak buat punya Carry ya jangan maksa punya Fortuner hehe. Dalam Islam dikenal zuhud, tidak meletakkan dunia dan harta didalam hati tapi sekedar dalam genggaman.

So, sederhanalah.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat;
diucapkan kayu kepada api yg menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat;
disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada


Ah, jadi nostalgia nih.

Profil | Buat lencana kamu sendiri
Profil Facebook Zunhaji Mohamad

Menetapkan Harga Jual

Assalamu'alaikum wr. wb.

Terkadang kita bingung dalam menentukan harga jual produk atau jasa kita. Terutama sekali jika kita sebagai produsen, ataupun kita sebagai re-seller.

Jika kita sebagai re-seller untuk produk yang brand-nya sudah terkenal (branded) maka biasanya harga sudah ditetapkan, namun tidak menutup kemungkinan juga bagi kita untuk menetapkan harga sendiri.

Dalam strategi penetapan harga dikenal ada 3 model yang umum dipakai :

1. Cost Plus Pricing (CPP)

Kita menetapkan harga jual dengan menggunakan hitungan biaya produksi internal seperti harga pokok penjualan (HPP/cost of good sold) atau harga modal dan biaya operasional yang timbul, lalu ditambah dengan margin keuntungan yang diinginkan.

Artinya CPP melakukan perhitungan maju (forward calculation), dari biaya internal yang ditimbulkan menuju harga jualnya berapa. Ini yang paling umum digunakan. Modal berapa, cost berapa, ingin margin berapa lalu tentukan harga jual.

Jika ada perubahan pada HPP nya maka untuk mendapatkan margin keuntungan yang sama otomatis harga akan berubah. CPP memungkinkan terjadinya perang harga. Siapa yang paling murah, dia punya kesempatan lebih baik. Itulah sebabnya CPP masih cocok jika target pasar kita middle-low yang 'price-sensitive'.

Contoh adalah perang harga di industri telekomunikasi saat ini. Karena turunnya tarif interkoneksi, akibarnya cost pun jadi turun, lantas selama marginnya masih dapet ya di murahin semurah-murahnya.

2. Market Based Pricing (MBP)

Kita menetapkan harga jual dengan melihat harga di pasaran yang terkadang sudah ditetapkan oleh para pemain. Jika harga rata-rata suatu produk di pasaran sekian rupiah, maka kita harus menggunakan harga tersebut agar kompetitif.

Artinya MBP melakukan perhitungan mundur (backward calculation), untuk mengetahui apakah masih ada sisa labanya setelah melihat harga jual dikurangi biaya-biaya yang timbul.

Biasanya berlaku untuk produk consumer goods atau daily needs. Contoh harga pulsa ya kisaran atau rata-ratanya sudah diketahui, maka kita pastinya menetapkan harga sama atau dibawah itu sedikit.

MBP masih lebih baik dari CPP karena menghindari terjadinya perang harga tapi resikonya adalah munculnya isu kartel atau permainan harga dari para pemain besar seperti isu monopili dua perusahaan besar telekomunikasi.

Untuk kedua model diatas, kadang kita bisa memadukannya. Artinya kita menetapkan harga berdasarkan CPP tapi sekaligus melihatnya juga melalui MBP. Apalagi dalam menghadapi persaingan.

Seperti usaha saya yang bergerak di ritel maka dalam menetapkan harga, selain berangkat dari modal, cost dan margin yang diinginkan, juga melihat harga pasaran atau pesaing.

Kita ingin margin berapa sekaligus melihat apakah harganya sudah sesuai dengan di pasaran, jangan sampai terlalu murah hingga marginnya tipis banget sampai beresiko rugi tapi jangan juga kemahalan sehingga mengakibatkan kurang laku.

3. Value Perception Pricing (VPP)

Ini yang paling ideal sebenarnya, tapi memang paling sulit. Kita menetapkan harga menggunakan persepsi pelanggan terhadap harga yang pantas untuk layanan atau produk kita.

Harga produk tidak selalu harus berbanding lurus dengan biaya produksi atau cost. Selama konsumen menganggap kualitas baik produk dan layanannya dianggap baik, mereka tidak akan segan-segan untuk membelinya dengan harga mahal.

Pernah dengar 'harga barangnya gelap' ? Maksudnya adalah dari harga jual kita gak bisa menebak berapa harga modalnya. Sepatu, kacamata, aksesoris termasuk didalamnya.

Persepsi-persepsi-persepsi. Itulah yang selalu diwanti-wanti pak Sumardy dari Octobrand sewaktu Forum Jum'at TDA tempo hari. Hasilnya akan selalu lebih baik walau perjuangannya juga gak sedikit dan ringan.

Perang harga biasanya bersifat 'short term'. Menang sebentar. Sedangkan dengan persepsi walau lebih lama prosesnya namun lebih awet pula keuntungannya.

Contoh yang sama pada insutri seluler. VPP menggunakan persepsi pelanggan terhadap kualitas layanan, sinyal gak pernah putus, kemudahan pembayaran, ketepatan billing, jaminan asuransi dan banyak lagi.

Konsumen menjadi 'non price sensitive'. Asal puas, berani bayar mahal. Daripada murah tapi bikin pusing. Target pasarnya memang lebih kepada 'middle-up'.

Semoga kita bisa menetapkan harga dengan baik.

PS : Disarikan dari artikel di majalah Trust dan tembahan lainnya.

Wassalam.

Profil | Buat lencana kamu sendiri
Profil Facebook Zunhaji Mohamad